Kalau Bukan Gusdur, Pasti misteri mengenai waktu meninggalnya tidak akan diungkit ungkit dan diributkan. Apalagi Beliau oleh Sebagian Kalangan dianggap ‘Kedunungan’ Walayah yang menempatkan Posisi Beliau sejajar dengan posisi Auliya’. Bayangkan saja, Ditengah gegap gempita Pemberitaan Media yang cenderung mengekspose Tragedi Perpecahan Bangsa, yang diwakili oleh Kasus Century,Gurita Cikeas, sampai Melayangnya buku ke wajah seorang wakil Rakyat, tiba tiba Bangsa Indonesia dikejutkan dengan Meninggalnya Guru Bangsa, Presiden ke 4-RI, Pendekar Pancasila, Pejuang anti Diskriminasi dan Penegak Persatuan, KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur pada Hari Rabu Malam, 23 Desember 2009 tepat Pukul 18.45 WIB.
Terus terang sayah ikut terhanyut dalam arus kesedihan, namun Ditengah kesedihan saya, tiba tiba Kliwon,Teman akrab saya nyeletuk, “Waktu Meninggalnya Gus Dur kok Aneh dan Simbolis Sekali Ya, 18.45 “.
“Aneh Bagaimana”
“Coba sampeyan lihat, 18.45, 1+8=9, 4+5 juga berjumlah 9, Bahkan Kalau Kedua Hasil Penjumlahan tersebut dijumlahkan Lagi, Hasil Penjumlahanya pun juga Sembilan, 9+9=18, 1+8=9″,
“Lalu Apanya yang aneh ?” SAya bertanya lebih lanjut.
“Angka Sembilan menurut interpretasi orang Jawa dianggap sebagai angka Paripurna, Perlambang Kesempurnaan. Contoh Nyata, Dulu para Wali yang Berjasa Mempribumisasikan Islam di Tanah Jawa disebut sebagai Wali Songo atau Wali Sembilan, padahal secara ilmiah terbukti bahwa jumlah sebenarnya dari wali tersebut lebih dari 9 bahkan bisa dikatakan mencapai puluhan. Pertanyaanya kemudian, Kenapa angka 9 yang dipakai untuk menyebut kelompok
wali tersebut, apakah hal ini bertujuan untuk menciptaan mitos sebagai wujud sakralisasi 9 orang wali itu ataukah ada maksud lain dibalik simbol angka tersebut ?. Angka 9, seperti yang saya katakan tadi , dipakai sebagai perlambang kesempurnaan, Para Wali yang menyebarkan Agama Islam menurut orang jawa dianggap sebagai Pihak yang telah memberikan landasan berakidah kepada masyarakat jawa untuk menjapai derajat Insan Kamil, Manusia Sempurna.”
“Mungkin dalam kasus Gus Dur, Perlambang angka sembilan itu menemukan Relevansinya “, Kata Kliwon Melanjutkan, “Gus Dur dimata Allah telah dianggap sempurna Menyelesaikan Tugasnya di Dunia dengan Nilai Rapor yang Sempurna pula, Bahkan dalam kesempurnaan tugasnya itu, beliau juga kemungkinan besar telah memperoleh Kesempurnaan sebagai Insan al Kamil”.
Sayah Tertegun Mencerna uraian Kliwon tersebut. Gus Dur, Kalau dilihat dari Perangai, Perkataan, dan Tulisan Tulisan yang Kesemuanya merupakan gambaran dari ide dan pemikiran beliau, terlepas dari segala macam kontroversi yang menyertainya, bisa dikatakan bahwa Beliau Merupakan Hadiah Maha Hebat dari Allah SWT Kepada Bangsa Indonesia. Gagasanya tentang Demokrasi dan Demokratisasi serta Pemikiranya yang Moderat dan anti Diskriminasi, sangat mewarnai perjalanan Bangsa yang pernah berada di bawah pememerintahnya itu. Karena itu, Bangsa Indonesia patut dan Bahkan Harus mengucap Berjuta terimakasih kepada beliau atas Semua prakarsanya dalam menjaga persatuan dan Kebhinekaan Indonesia. Yang Paling Penting, Nama baik beliau yang pernah tercemar oleh kasus ’skandal wanita’ serta angket ‘Bulog dan Brunei Gate’ haruslah direhabilitasi kembali, karena semua tuduhan kepada beliau seiring berjalanya waktu tidak pernah terbukti secara yuridis.
Anggap Saja sekarang Gus Dur Masih hidup, Apabila ilmu Othak Atik Gathuk Angka 9 ini dikonfirmasikan kepada Almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid, Jawaban Beliau pasti bisa ditebak, “Gitu Ajah Kok Repot !, Permasalaha Bangsa Masih sedemikian Rumit dan Banyaknya, Sampeyan Masih saja Mengungkit ungkit hal Sepele seperti itu”.
Ah, Sayah bakal merindukan kata – kata sakti anda itu Gus, dan Insya Allh saya Akan berjuang dan Terus Berjuang untuk lebih Menyempurnakan Harapanmu akan Indonesia yang sama sama kita cintai ini Gus …
Wallahu A’lam …

marsudiyanto
8 months ago
Ikut berbela sungkawa pada semua saja yang menjadi pengagum Gus Dur…
Met Taun Bary
Sukses buat masdan.net
Jidat
8 months ago
Selamat jalan gusdur