Harus diakui bahwa Bangsa Indonesia merupakan Bangsa Yang Sombong. Tidak hanya Sombong secara Kolektif Universal, tapi juga sombong secara Parsial Individual. Bagaimana tidak, Indonesia sudah dianugrahi timbunan intan berlian Kehidupan dengan keanekaragaman yang menakjubkan, namun apa lacur ?!?! Apresiasi untuk Melestarikan, mengelola, dan Menggunakan Hadiah Maha Hebat tersebut sungguh sangat minim. Ambil Contoh, misalnya masalah budaya seperti yang sekarang sedang hangat diperbincangkan. Indonesia sebenarnya memiliki beberapa Adagium indah yang syarat Makna sebagai pegangan atau Filosofi Hidup dalam bertindak, salah satunya adalah “Tri Dharma Amerta” Yang terdiri dari Ajaran “Rumangsa Melu Handarbeni atau Rasa Memiliki, Rumangsa Melu Hangrungkebi atau Rasa Bertanggungjawab, serta Mulat Sariro Hangroso Wani atau Mawas Diri”.
Kalau dilihat-lihat, kita sebenarnya masih mau mengamalkan salah satu dari Ketiga ajaran Luhur tersebut, yaitu Ajaran “Rumangsa Melu Handarbeni” atau Merasa Memiliki, namun Ketiga Ajaran tersebut sangatlah terkait erat dan tidak bisa dipisahkan. Rumangsa Melu Handarbeni haruslah diikuti oleh Rumangsa Melu Hangrungkebi. Kalau hanya satu yang dilaksanakan dan Meninggalkan yang lain, keseimbangan akan goyah sehingga kedamaian yang diimpi-impikanpun tidak akan tercapai. Seperti Kasus Klaim Budaya Indonesia Oleh Negara lain misalnya dimana Indonesia Ngotot Mempertahankanya, kemudian Rakyat bawahpun bergolak, dari yang dulunya tidak pernah sama sekali memperbincangkan Budaya, tiba tiba ikut-ikutan latah membahasnya, bahkan pembahasanya memakan porsi yang lebih dari porsi Sinetron atau Gosip, karena apa ?!?! ya Karena masih memiliki Rasa Melu Handarbeni itu.
Kemudian Timbul Pertanyaan, Wajarkah tindakan tersebut ?!?! Kalau menurut sayah sendiri, tindakan reaktif tersebut sangatlah wajar. Bayangkan jika seorang Anak Kecil, katakanlah Namanya Kliwon, Memiliki Mobil-mobilan namun mobil-mobilan tersebut tidak pernah diperhatikan, dirawat atau dibersihkan tiba-tiba diklaim oleh Pahing. Lalu, karena memiliki Ego Handarbeni, Kliwon Marah-marah dan memaki-maki Pahing karena Sudah berani Mengaku-aku memiliki Mobil-mobilan Kepunyaanya. Kalau ditimbang-timbang, Tindakan Kliwon Tersebut sangatlah wajar, namun lebih wajar dan lebih utama lagi jika Ego handarbeni Kliwon Tersebut disandingkan dengan Ego Hangrungkebi, Ego Tanggungjawab. Lalu apa Yang Harus dipertanggungjawabkan? Yang harus dipertanggungjawabkan adalah Kepemilikanya itu. Kalau Kliwon Berani memiliki Mobil-mobilan, dia juga harus berani bertanggungjawab, caranya bisa dengan merawat Mobil-mobilanya tersebut, membersihkanya, dan membawanya main, Sehingga, Pahing akan lebih “Sungkan” untuk Mengakuinya karena Kliwon memiliki alat Pembuktian Sempurna.
Wah, Benar benar indah bukan ajaran Budaya kita itu. Namun, Kembali lagi Karena Kesombongan Kita, Ajaran Budaya yang adiluhung inipun seolah-olah sudah terlupakan. Lalu, Kita akan Mulai tergerak untuk mengenalnya lagi kalau sudah ada Bangsa lain yang mengklaim atau mengakuinya, mengakuinya menjadi ajaran asli budaya mereka.
Lalu, Apa kita mau Seperti itu ?!?! Pasti Tidak. Oleh Karena itu, Disinilah Peran ajaran Ketiga dari Tiga Ajaran Tri Dharma Amerta tersebut menemukan fungsinya, Yaitu “Mulat Sarira Hangrasa Wani”. Selalu Introspeksi atau selalu mawas Diri harus kita Laksanakan, Mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang !!
marsudiyanto
1 year ago
Saya mampu “Mulat Sarira Hangrasa Wani” nggak ya? :D
deT
1 year ago
apa yang sampeyan katakan itu benar adanya mas..
masDan
1 year ago
@ Pak Marsudiyanto : Katakan Bisa .. !!!
@ Mas Det : Semoga !!
Seno
1 year ago
Itulah kita Mas, kaya raya, saking kayanya kita ndak bisa ngelola huw,..
suwung
1 year ago
gampang dibahas susah dilakukan
ernut
1 year ago
begitulah adanya kita…oh! jadi malu…
nuril zakariya
1 year ago
bagus-bagus bagus…. bung pinjam bukunya dunkzzzzz
masdan
1 year ago
@ Kang Suwung : SUsah Bukan Berarti Ndak Bisa Kan …
@ ernut : Sayah juga ikutan Malu ….
@ Nuril : Buku Apaan Ril ?!?!?!