Kedatangan saya di Jakarta setelah Liburan Semester kali ini menyisakan sebuah keterkejutan yang sangat. Bagaimana tidak, baru kali ini ada Pesta penyambutan luar biasa untuk kedatangan saya. Nyala terang Kembang api raksasa yang tidak seperti biasanya diikuti suara khas teriakan “Kegembiraan” orang-orang yang melihatnya melengkapi keterkejutan saya itu. Apalagi, pesta penyambutan ini diadakan secara langsung di 2 Hotel mewah Kelas Dunia yang bahkan saya sendiri tidak pernah bermimpi untuk menginap di dalamnya.
Namun di atas itu semua, kejadian ini menyiratkan suatu keanehan yang menarik untuk dikaji. Biasanya Kembang Api dinyalakan ketika menyambut datangnya sebuah Hari Besar, entah itu hari besar Nasional ataupun Hari besar Keagamaan. Apalagi kalau kembang Api yang dinyalakan itu kembang Api raksasa dengan sumbu pemantiknya adalah “Bahan Bakar Api Neraka” , dapat dipastikan Kejadian ataupun Hari yang diperingatipun bukan hari besar sembarangan. Intinya Gebyar Cahaya yang Ditimbulkan Oleh nyala Kembang Api seolah-olah dibuat sebagai pertanda Situasi Pancaroba Antara Dunia Gelap dan Terang, Antara Kerendahan dan Keagungan, serta Antara Kehinaan dan Kehormatan. Gelapnya Sebuah Kerendahan dan Kehinaan menuju Terangnya Keagungan Kehormatan disimbolkan dengan Nyala Terangnya Kembang Api.
Meminjam Ilmu Otak Atik Gathuk’nya Orang Jawa, bisa saya simpulkan kalau diri saya ini adalah “Orang Besar”, atau paling tidak calon “Orang Besar” sampai sampai harus disambut dengan pesta Kembang Api Layaknya Penyambutan Hari Besar.
Hehehehe, Sekali Kali Ngelantur Boleh Kan ?!?!?