Jun 22 2009
Penyesalan Indonesia Open Super Series 2009
Setelah Empat hari mengikuti gelaran Indonesia Open Super Series 2009 secara langsung di Istora Senayan Jakarta, ada beberapa Kesan yang sempat terasa, entah itu kesan manis ataupun kesan pahit berupa Penyesalan. Mengenai kesan manis tak usahlah diceritakan di sini, karena terlalu panjang untuk dituturkan.
Wa Ba’du, kala melihat meriahnya pertandingan, harus saya akui bahwa pelaksanaan Djarum Indonesia Open Super Series 2009 berjalan dengan baik dan dapat dikatakan sukses. Namun, ada beberapa permasalahan yang perlu dicermati sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan bagi ajang yang sama tahun Depan. Menurut saya, dari berbagai permasalahan yang timbul, Permasalahan pertama dan yang paling krusial adalah masalah Ticketing. Bagaimana tidak, Tiket di loket resmi sangat susah didapatkan, kalaupun benar-benar ingin memperolehnya, harus berjuang ekstra keras. Mengantri dari pagi sampai siang dengan berdesak-desakan dipayungi panasnya terik matahari dan kepul asap Rokok. Apalagi hal ini diperparah dengan menjamurnya Calo-calo tiket yang seolah-olah dibiarkan tanpa adanya penertiban.
Yang Kedua adalah masalah Etika Penonton. Memang sebagai seorang penonton, sorak sorai dukungan terhadap tim kesayangan adalah hal wajar, akan tetapi sorak sorai tersebut menjadi tidak wajar lagi jika materi sorakanya kemudian berisi ejekan-ejekan yang berbau politis, Seperti halnya Sorakan “Malaysia Maling”, “Manohara”, “Ambalat” dan sebagainya. Okelah saya akui, mungkin sorakan tersebut merupakan ekspresi kekesalan dan mungkin juga bentuk dari rasa iri. Kalau dikatakan kesal, sayapun juga kesal, namun Sucinya Sportifitas Olahraga hendaklah jangan dikotori dengan kepentingan-kepentingan politis sesaat, karena, disadari ataupun tidak, hal itu akan membawa dampak negatif yang sangat besar. Mungkin para Penonton dengan hingar bingar sorakan ejekanya tidak menyadari bahwa Pemain lawan yang disoraki tersebut merasa sangat terbebani sekali, lalu bayangkan seandainya para pemain-pemain hebat tersebut tidak mau berpartisipasi lagi dalam turnamen Indonesia Open Super Series berikutnya gara-gara sebal dengan Etika Buruk Penonton, apa Yang akan Terjadi ?!?, Turnamen ini akan menjadi turnamen lokal yang sepi tanpa gengsi.
Selain sisi negatif tersebut, riuh rendahnya Sorak sorai penonton juga sangat berpengaruh buruk terhadap Pemain yang didukung. Sebenarnya niat awal para supporter tersebut baik, dengan sorak sorai yang menggema, diharapkan pemain dapat lebih termotivasi. Akan tetapi sorak sorai yang terlalu ribut juga sangat mempengaruhi dan bahkan cenderung merusak konsentrasi pemain yang didukung, akibatnya permainan sang idola menjadi kacau.
Di atas semua kekurangan, keburukan, kekacauan tersebut, ada empat hal yang sangat saya sesali berkaitan dengan Turnamen Indonesia Open Super Series 2009 Kali ini. Yang Pertama, Mbak Maria Kristin ndak jadi Juara, Yang Kedua, Saya Ndak bisa foto Bareng Mbak Maria Kristin, Yang Ketiga, Saya Ndak dapat Tiket Semifinal, padahal Dalam tiket Semifinal tersebut terpampang Foto Mbak Maria Kristin dan yang terakhir, saya ndak bisa salaman dan ngasih ucapan semangat buat Mbak Maria Kristin.
Semoga, kekuarangan dan kegagalan mengukir prestasi dalam perhelatan Indonesia Open Super Series kali ini dapat menjadi pelajaran dan lebih melecut semangat semua pihak yang terkait dengan pengembangan perbulutangkisan Nasional, entah itu pihak yang terkait secara structural seperti PBSI, Koni, Kementrian Pemuda dan Olahraga, Atlit ataupun Pihak yang mempunyai ikatan Emosional layaknya Penonton dan Supporter, agar berbenah menjadi lebih baik lagi untuk kejayaan Bulutangkis Indonesia.
Hidup Indonesia .. !! Hidup Mbak Maria Kristin !!!


satu hal lagi dari etika penonton, yakni adanya oknum penonton menggunakan blitz ketika akan memfoto pemain kebanggaannya. yang jelas2 mengganggu pemain ketika sedang bertanding……
Hehe, Bener Mas …
Bahkan Sudah Berkali-kali Pihak Panitia Memperingatkan mereka, Namun Tetap TIdak Digubris …
Hmmm …
tapi tetep seru kan om?
@ dian : Kurang Seru, Soalnya Mbak Maria Kristin ndak Masuk Final … Hehehehehe
semoga semoga semoga…
hidup indonesia…merdeka!!!
saya menyesal karena dirimu menyesal
ada hubungan khususkah mas dan dg mbak maria kristin? hehe … yang aku sesalkan, indonesia tak satu pun bisa meraih gekar bergengsi di negerinya sendiri. PBSI perlu melakukan prubahan total nih.
Itulah kalo ngga tau soal teknologi, blits kan kemampuanya pendek, pake ngeshoot bola lagi, hayah
semoga dari kita semua, bisa menyadari atas segala kekurangannya masing masing, dan semoga kita bisa memperbaiki terus menerus menuju ke arah yang lebih baik. Amin
lah fotone ndi?
mosok gak dikeki foto?
hahaha
hapemu keri to Dan..??
smoga ke depam indonesia bisa lebih baik lagi.. amin….
kayaknya semua perlu introspeksi dech… hehehe
Wah.. etika penontonnya kok gitu ya.. baru tau saya.. karna saya liat di tv jadi ga kedengaran
wah kali ini aku gak nonton langsung nih..
jadi pengen bersorak sorai… hehehe.. tapi ga pake ambalat :D
wow… gung dibales komentare… sibuk ki mestine…
ini sudah berapa kalinya? kita kalah sama china
saatnya perubahan!!!! lebih cepat lebih baik!!! Lanjutkan….!!! *bukan kampanye loh, wekekekkk*
Masalahe mas dan ora ngajak mas Romy Rafael.
selamat bagi indonesia deh.

meskipun blm dapet apa-apa
:D
sengsoro yen tinompo, amung dadi cobo
tenang dan, krn lo udeh jdi tmen gw, taun dpan lo ga usah antri2 tiketnya lagi.. enak kan?? hahaha