Kemarin, teman saya Pahing dan Kliwon berdebat seru sekali mengenai daya ingat atau hafalan orang Indonesia. Kliwon berargumentasi bahwa hafalan orang Indonesia itu benar-benar kuat sekali, contohnya saja ketika ada orang yang mempunyai piutang, orang tersebut akan selalu hapal kepada siapa dia meminjamkan Uang, bahkan sampai dia sekarat sekalipun.
Namun, pendapat Kliwon tersebut langsung dibantah oleh Pahing. Pahing mengatakan bahwa daya ingat orang Indonesia itu sebenarnya lemah, bahkan bisa dibilang sangat inferior. Buktinya, dulu ketika harga BBM dinaikkan, pemerintah dalam hal ini Presiden dicerca karena dianggap tidak peduli dengan rakyat dan dianggap tidak pantas memimpin Negeri, namun ketika situasi global sangat berpihak kepada pemerintah dengan turunya harga minyak dunia yang mendorong Pemerintah menurunkan harga minyak dalam Negeri pula, rakyat menjadi lupa akan cercaan yang pernah mereka ungkapkan dulu. Mereka malah mengelu-elukan Presiden dan mengamanatkan untuk melanjutkan Pemerintahanya.
Karena melihat serunya perdebatan kedua teman saya itu, tanpa diminta sayapun ikut nimbrung. Saya Katakan kepada mereka bahwa masalah hafalan itu sifatnya kondisional, tergantung subyek dan kepentingan yang melatarbelakanginya. Namun, tanpa menggubris pendapat saya, pahing tetap bersikukuh akan pendapatnya, begitu juga Kliwon, sehingga perang kata-kata diantara keduanya terus berlanjut dan tak dapat dielakkan lagi.
Sebenarnya saya agak Nggrundel, namun Perdebatan antara Pahing dan Kliwon mengenai hafakan tersebut tiba-tiba mengingatkan saya pada kutipan syair indah Imam Syafi’i dalam Kitab Tafsir As Showi yang dikemukakan kepada Guru Beliau, Syech Waki’,
“Syakautu ilaa waki’in suu a khadhdhi, faarsyadanii ila tark al ma’ashii – wa a’lamanii bianna al ‘ilma nur, wa nur allah la yahdii li ‘ashi”
Aku Mengadu kepada Guruku Waki’ tentang lemahnya hafalanku, beliau menunjukkan padaku untuk meninggalkan maksiat. Dan mengajarkan padaku bahwa ilmu adalah cahaya. Cahaya Allah tidak akan diberikan pada orang yang melakukan maksiat.
Bayangkan, Imam Syafi’i saja yang tak pernah melupakan apa yang pernah beliau baca, beliau dengar, beliau lihat, dan beliau rasa dengan kerendahan hati masih bisa mengeluhkan hafalanya. Sedangkan saya, dengan kemampuan hafalan ala kadarnya masih sering melakukan maksiat yang membuat fikiran semakin tertutup dan tersekat.
Duh Gusti, Ighfirlii Ighfirlii ighfirlii….
visit gorontalo
1 year ago
thanks dah mengingatkan… nice sharing
wennyaulia
1 year ago
hehehe
kirain mo cerita lagunya kuburan
untung ternyata bukan tentang itu :D
zee
1 year ago
Iya mas, benar sekali.
Orang kita ini kalo lagi benci suka asal bicara, main sumpah serapah, tapi nanti giliran senang, dia lupa kalo udah pernah bicara begitu.
Mudah2an saya bukan orang yg begitu, karena saya selalu berusaha ingat apa yg saya katakan.
Ongki
1 year ago
Suwi gak mampir,, hahaha..
iyo, setuju lak dibilang kondisional.. gak kabeh iso iling aku, tp klo kejadiannya sing nda wajar,, biasane ileng terus..
alfaroby
1 year ago
menarik sekali diskusi di atas.. sebuah realita kehidupan dengan fakta yang jelas…
memnag sih.. kalau dalam masalah piutang itu kita hapal banget, tapi kalau dalam masalah utang, kita mudah lupa, bahkan beberapa terkesan melupakan dengan sengaja.. hehehe
banyak orang yang berdemo dan turun ke jalan, menyuarakkan aspirasi yang katanya dari rakyat dan kemudian balik dari demo pulang ke kos/rumah, tidur dan besoknya sudah lupa tuh.. heheheh
edward
1 year ago
Pak Dhe Wicak
1 year ago
mungkin Wage harus ikut nimbrung, biar debatnya ada titik temunya :D
sawali tuhusetya
1 year ago
kecederungan kita adalah selalu mengingat kejelekan orang lain dan demikian mudah melupakan kebaikan orang. mudah2an kita tetep eling lan waspada, masdan.
ndop
1 year ago
wow.. opo maneh diriku iki..
guyoon tok… apalane dadi ilang kabeh, wekekeke… lho ngguyu neh khan, huaahahaha… lo, ngguyu terus khan.. wekekek… *plak*
tutup mulutmu ndop!!
hihihi..
…
AlvienRizki
1 year ago
kok lupa lupa ingat sama indonesia… kasian indonesianya… :D
suwung
1 year ago
apalagi diriku yang sarafnya putus…
susah sekali kalo mengingat
andi
1 year ago
bangsa ini kan terkenal akan lemahnya memori kolektif…
mungkin karena ada istilah “yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu” hehehehehehe
Frenavit Putra
1 year ago
Wah koyok e intine iki awak ndhewe kudu rendah hati gak oleh sombong… menilik quote imam syafii…
Investasi
1 year ago
ha ha ha tulisan yang sangat menggugah rasa ok ok mantabs, salam kenal ya
Rusa Bawean™
1 year ago
ini bukan lirik lagu band itu kan???
:)
masdan
1 year ago
@ all : inih Bukan Lagunya Kuburan Band Lho yah …..
Zulhaq
1 year ago
kayak kuburan band aja niy lupa lupa ingat
Gilang Reffi Hernanda
1 year ago
wah, terima kasih ya mas sudah mengingatkan…
nice writing!
Juliach
1 year ago
Ya memang orang Indonesia itu bangsa yang pelupa. Lihat saja seorang ibu bertanya kepada JK mengenai produk nasional (dalam negeri). Lalu dijawab oleh JK dengan bangganya sambil mencopot sepatunya yg bertuliskan JK’s Production. Sayang sekali CAPREs koq otaknya lolot lupa dengan mobil yang dia naiki tadi adalah Mercedez dan diapun lupa bahwa mobil pengawal depan belakangnya pun adalah 4X4 Mercedez.
Semua hadirin yang ada di situ pun termasuk wartawan yang menyambutnya pun juga lupa.
Nafi Abdul Hakim
1 year ago
Alhamdulillah akhirnya bisa mampir ke sini juga..
hehehehe..
maklum tautankumasih yang lama..
maaf Mas..
dasar orang indonesia, suka berdebat n malah gk penting..
tapi salut bagi mereka berdua… Mr Pahing sana kliwon..
menjunjung tinggi rasa demokrasi..
hehehehe
dion
1 year ago
kuburan syndrome sedang melanda…
hahahahaa
niken
1 year ago
wah tampilan baru websitenya…
*baru liat*
karangan sendiri nih postingannya?
keren2..
Aqnhaa
1 year ago
K’..artikelx bgus bgedd..
Pnyajianx 2h jelas..gmpg d mNgerti…