Rabu pagi, tanggal 22 April 2009, nampak suasana ramai di kampus Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Beberapa karangan bunga dengan tulisan indah menghiasi jalanan masuk dan Pintu Lobi Fakultas. Terukir nama Tiga perempuan dengan sandangan Gelar Professor. Beberapa kalangan menyebut mereka Tiga Diva, sebutan indah yang pantas mereka sandang.
Penyebutan gelar Tiga Diva tidak terlepas dari capaian Keberhasilan ketiga perempuan tersebut dalam bidang Keilmuan yang ditandai dengan pengukuhan mereka menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Balai Sidang Djokosoetono. Ketiga Diva Guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Dra. Sulistyowati Irianto, MA, Prof. Dr. Rosa Agustina Trisnawati, SH, MH, dan Prof. Dr. Dra. Uswatun Hasanah, MA.
Rangkaian Karangan Bunga Ucapan Selamat
Pada acara pengukuhan tersebut, Prof. Dr. Dra. Sulistyowati Irianto, MA menyampaikan Pidato pengukuhan yang berjudul Meretas Jalan Keadilan Bagi Kaum Terpinggirkan dan Perempuan ( Suatu Tinjauan Socio Legal ), Prof. Dr. Rosa Agustina Trisnawati, SH, MH menyampaikan pidato berjudul Perkembangan Hukum Perikatan di Indonesia : Dari Burgerlijke Wetboek Hingga Transaksi Elektronik, sedangkan Prof. Dr. Dra. Uswatun Hasanah, MA dengan judul pidato Wakaf Produktif untuk kesejahteraan Sosial dalam Perspektif Hukum Islam Indonesia. Judul Pidato yang dibawakan oleh ketiga Profesor tersebut sangat terkait erat dengan latar belakang keilmuan mereka. Misalnya Prof. Rosa yang terkenal ahli dan ulung dalam bidang keperdataan, Prof. Sulis dengan Basic keilmuan Antropologi, dan Prof. Uswatun dengan kekhususan Hukum Islamnya.
Lebih dari itu, pengukuhan ketiga Guru Besar baru Fakultas Hukum Universitas Indonesia tersebut terasa sangat spesial. Dikatakan spesial karena waktu pengukuhan tersebut sangatlah dekat -kalau tidak boleh dikatakan bertepatan- dengan peringatan Hari Kartini 21 April 2009. Pengukuhan tersebut seolah olah membuktikan keberhasilan perjuangan Kartini berpuluh tahun lalu. perjuangan yang melelahkan dengan buah manis yang mengagumkan. peristiwa pengukuhan ini bisa dikatakan tidak akan terjadi apabila dahulu Kartini Muda hanya tunduk “manut” dan pasrah pada keadaan. sikap Revolusioner Kartini yang gagah berani menentang kekuatan Feodalisme zaman, telah merubah Indonesia seperti sekarang ini. AKan tetapi, harus diakui juga bahwa cita cita Kartini masih jauh dari kenyataan, namun dengan contoh keberhasilan ketiga Profesor perempuan di atas, bisa jadi akan menumbuhkan dan menciptakan Kartini Kartini baru dengan semangat tinggi dan sikap Revolusioner yang akomodatif terhadap jiwa zaman sekarang dan yang akan datang, sehingga akan tercipta toleransi kesetaraan dalam rangka partisipasi aktif untuk pembangunan Bangsa yang berkelanjutan.

oma
1 year ago
wah, ketemu masdan disini
hehe,
waktu ngeliat rangkaian bunga itu
rasanya koq heboh banget, semua lawfirm ternama kayanya ngasih rangkaian bunga
ya wajrlah mereka memang orang hebat, tapi sayang oma suka ga ngerti kalo diajarin mereka
apa karena kapasitas kepalanya yang kurang yang buat menampung semua ilmu yang diberikan mereka?
mau kaya mereka tapi sayang belajar aja suka males
haha
antown
1 year ago
senangnya kalau masih ada kesempatan mengembangkan diri di kampus. pakabar masdan, lama nih tak mampir kemari lagi