Maraknya peringatan Hari Kartini tanggal 21 April dengan banyaknya Prosesi bernuansa “Keperempuanan” seolah melenakan kita perihal makna sesungguhnya dari Hari Kartini itu Sendiri sebagai Jayastamba Manifestasi Perjuangan Perempuan tiada Henti yang harus dilanjutkan. Sekarang, Kartini dan Hari kartini hanya ditafsirkan sebagai sebuah kaitan sejarah panjang perjuangan perempuan untuk menggapai kesederajatan yang harus diingat -bukan dicontoh-. bahkan ada beberapa pihak yang memitoskan Kartini, me -Nyai Kalinyamatkan, me – Nyai Rorokidulkan, dan me-Nyai Blorongkan Kartini. Beberapa pikiran picik sempitpun muncul, pikiran yang hanya mengartikan kartini dan hari kartini sebagai simbolisasi “Sanggul ataupun Kebaya”. Pikiran picik tersebut dapat timbul dan berkembang karena adanya pengaruh berbagai hal, salah satunya adalah sistem internalisasi Pemaknaan sejarah dari generasi dulu yang kurang baik, ditambah lagi dengan sifat apatisme generasi yang sekarang terhadap sisi Kesejarahan dan Pemaknaannya itu sendiri.
Tapi memang harus diakui kalau tanggal 21 April itu memang ramai, banyak acara diadakan untuk mengenang Kartini, entah itu peragaan busana, seminar, lomba lomba, diskusi dan beberapa hal lain. namun, yang memperagakan busana hanya sekedar mendapat sensasi lenggak lenggok di panggung diakhiri teriakan kegembiraan bagi yang menjadi juara ataupun ratapan kesedihan bagi yang kalah, yang ikut seminar hanya bicara wacana tanpa aksi, yang ikut lomba hanya mengejar hadiah, yang ikut diskusi hanya sekedar ngotot ngototan otot dan keras kerasan suara untuk membenarkan argumennya sendiri sendiri, setelah itu sudah, semuanya kembali seperti semula, seperti halnya kemarin ataupun lusa.
namun, satu yang tidak dapat dipungkiri, kartini merupakan “unsur” yang abadi. Sosoknya, pemikiranya, perjuanganya tak akan pernah lekang digerus masa. Anda bisa coba mempengaruhi dunia untuk mengenyahkan kartini, anda bisa membuangnya, menghapusnya dari hati dan pikiran setiap orang melalui instrumen kekuatan ideologi politik, ekonomi, bahkan kekuatan “keagamaan” anda -seperti yang marak terjadi akhir akhir ini-, tapi kartini akan tetap eksis, bahkan akan lahir Kartini Kartini baru yang akan melawan “Kekuatan” anda tersebut seperti perlawanan Kartini terdahulu terhadap kekuatan Feodalisme politik Jawa yang secara Holistik sangat Bias Gender.
mengenai Kartini sendiri, ada satu hal yang masih mengganjal di benak saya. Secara umum, Kartini ditempatkan sebagai pahlawan Perempuan, dan saya kurang menyetujuiHal tersebut. Kenapa ?, karena apabila Kartini dianggap sebagai Pahlawan Perempuan, seolah olah menempatkan dan melegitimasi posisi laki laki sebagai musuh. padahal yang dilawan kartini bukanlah Laki laki, yang diperjuangkan Kartini bukanlah terdepaknya laki laki. akan tetapi, yang dilawan kartini adalah sistem ketidak adilan, yang diperjuangkan Kartini adalah Kesetaraan.
Ah Sudahlah,
Untukmu, apapun – siapapun – dimanapun kalian
Selamat Hari Kartini.
Raffaell
1 year ago
Salah satu eforia blogsphere, postingan hari kartini, menujukan nasionalisme indonesia masih ada..
masDan
1 year ago
@ raffaell :
Puspita W
1 year ago
Aku perempuan juga, mas!
Elek-eleko aku yo berjuang, e e e maksudku … pejuang!,
Isoku mung berjuang piye carane murih murid-muridku dadi ‘pembelajar’ kaya RA Kartini.
Selamat berjuang mas!
masDan
1 year ago
@ Puspita W : Iyo, Lha Sinten ingkang ngarani Panjenengan sanes tiyang Setri … Heheheheh …
Selamat Berjuang Juga Mbak …
ndop
1 year ago
maksude wi pahlawan berjenis kelamin perempuan Dan..
imah ulfiani
4 months ago